Rabu, 27 Juni 2012

Ribas - Dia yang tak bisa ku sebut namanya

Ribas - Dia Yang Tak Bisa Ku Sebut Namanya
Intro : G Em Am D 2x

G Em Am D
Kala ku temukan bagian yang hilang
Em Am C D
Patahan rusuk itu melengkapkan aku
G Em Am D
Tak lelah dia kumpulkan serpihan hatiku
Em Am C D
Membentuknya menyatu melembutkan aku

G Em Am D
Dia yang tak bisa ku sebut namanya
Bm A# Am D
Karena dia tak ingin aku mengungkap semua

Interlude : Em Am C Bm

G Em Am D Em
Berlalulah sedih maka berakhirlah pedih
Am C D G
Sejak pertama kali aku kecup bibir itu
Em Am D Em Am
Hatiku menyadari tak ingin lagi mencinta
C D
Selain dengannya

Reff :
G Em Am D
Dia yang tak bisa ku sebut namanya
Bm A# Am D
Karena dia tak ingin aku mengungkap semua
G Em Am D
Aku mencintai misteri cinta yang menyelimuti
Bm A# Am D G
Dia yang tak bisa ku sebut,.,. namanya

Interlude : Em C D G Em C D

Em C
Langit ku terbuka saat dia tatap aku mesra
Em Am
Namun ku tak bisa mengungkap rahasia cinta
D
Secinta-cintanya
G Em Am D
Telah ku temukan bagian yang hilang
Em Am C D
Patahan rusuk itu menguatkan aku

Balik ke Reff 2x
Coda : Em Am Em Am Em

Lirik dan chord Ribas - Dia Yang Tak Bisa Ku Sebut Namanya berasal dari blogmusikku.blogspot.com

Minggu, 10 Juni 2012

Secret Admirer

Gue berjalan di koridor sekolah,  sedikit bingung harus bagaimana, hatik gue berbunga seperti taman yang di tumbuhi bunga-bunga kala gue melihatnya namun akan terasa sakit seolah-olah duri-duri menusuk saat gue melihat nya bersama yang lain.

Hampir 3 tahun gue memendam rasa padanya sejak awal kami masuk sekolah ini, kini sudah hampir lulus SMA dan gue masih saja memendam rasa padanya padahal banyak gadis-gadis cantik disini tapi entah kenapa gue tak tertarik. 
Wajah gue juga lumayan kok yah bisa di bilang ganteng lah(hahaha muji diri sendiri) gue juga berprestasi baik akademik maupun olahraga banyak yang memujaku dari kelas X sampai kelas XII, tapi entah kenapa gue tetap saja mematung di satu hati. 

Dia Shakyra azka putri, gadis yang gue kagumi, sukai bahkan cintai. dia manis berkulit putih rambutnya hampir mencapai pinggang agag bergelombang, dia pintar tapi rangkingnya tidak bisa melaluiku, guejuara 1 dan dia juara 2 dikelas. Gue suka rambutnya disaat orang beramai-ramai meluruskan rambut dengan rebonding yang gue pikir menghabiskan uang saja, dia tetap mempertahankan kealamian rambutnya sama seperti dia yang mempertahankan sikap dan prinsip hidupnya, gue suka semua yang ada di dirinya tak terkecuali. 

Gue bersahabat dengannya sangat dekat malah tiap dia ada masalah dia selalu mengadu padaku, tiap dia merasa jatuh cinta pada seorang pria dia selalu cerita padaku, tiap dia sakit karena pria dia menangis di bahuku, tanpa dia sadari gue sakit, gue menahan segalanya, saat dia tersandung masalah gue selalu berusaha mati-matian mencari jalan keluar agar dia bisa tertawa lagi, saat dia jatuh cinta pada pria lain aku berusaha mati-matian menahan perasaanku agar gue tetap bisa memberikan saran padanya, saran kado apa yang cocok untuk kekasihnya, baju apa yang cocok untuk dia pakai saat kencan, bagaimana cara memahami kekasihnya yang suka curigaan. aku mati-matian menahan semua gejolak sampai dia benar-benar tak bisa mengetahui isi hatiku sedikitpun. aku begitu hebat dalam hal ini meski hatiku berdarah-darah karena cinta tapi diluar gue begitu kokoh sehingga tak seorangpun tau kesakitanku.

"Braakk" gue meletakan tas bangku di depan belum terisi mungkin si penghuni bangku lagi serapan di kantin dengan kekasihnya, aku menelungkupkan kepalaku diatas meja, sedikit ngantuk karena tadi malam habis begadang nonton bola.

"brakk"  gue mendengar suara tas dihempaskan di atas meja, paling juga Reno teman sebangku, gue enggan mengangkat kepala sampai ada tangan lembut yang mengoyang-goyangkan tubuhku 

"Yann....bangun donk tidur mulu,"  suara lembut itu mengelitik telingaku memaksa mata gue  untuk melihat wajah indahnya. gue mengangkat kepala dan berguman malas
"Apaan ra? gue ngantuk ahh!" kini dia hanya diam memandangi ujung sepatunya

"Lo liat apaan di bawah? cari recehan iah?" gue berusaha mengodanya tapi dia justru menangis, gue segera menarik tangannya dan membawanya ke taman belakang sekolah. Gue dan dia duduk di rerumputan sementara tangisnya belum juga reda gue merangkul bahunya dan meletakan kepalanya dibahuku sambil mengusap airmatanyayang tak kunjung berhenti mengalir.

"Kenapa?" hanya itu yang gue tanya dan dia masih saja terisak kali ini makin keras gue hanya bisa diam menunggu jawaban darinya
"Dia jahat," ucapnya tiba-tiba gue hanya diam menunggu penjelasan selanjutnya
 "Dia mutusin gue." aku masih diam dengan sabar mengusap-usap rambutnya.
"Dia udah permalukan gue di kantin" dia terus terisak dan gue tetap diam sibuk menenangkan gejolak hati gue sendiri.

"Gue salah apa sih sama dia yan? gue selalu ngertiin dia, gue selalu nurut apa kata dia? gue juga ga pernah nuntut macem-macem dari dia?" gue tetap diam sibuk membelai-belai rambutnya merusaha menenangkan.

"Dia mutusin gue gitu ajah dan ngenalin pacar barunya di depan teman-teman, gue sakit hati yan....sakit" tangisannya semakin kencang sehinga tubuhnya terguncang-guncang di pelukanku

"Nangis ajah yang kencang kalo itu bisa buat lo puas tapi cuma 1x ini ajah lo boleh nangisin dia besok lo harus buang dia dari hidup lo" dia diam lalu menganguk.
"Udah bel, masuk yuk" ajakku sambil berdiri

"Gak mau, gue masih mau disini temani yah" dia merengek dan gue tak bisa berbuat apa-apa kecuali menemaninya dan dia masih saja meletakkan kepalanya di bahu gue dan gue tetap merangkul pundaknya jauh dilubuk hati guevsenang dia putus hari ini. mungkin ada celah dan gue bisa memasuki hatinya

***

"Ryanda Arkan Permana" teriakan itu ngagetin gue siapa lagi yang iseng meneriakkan nama lengkap gue  selain shakyra azka putri gadis yang selalu gue kagumi.
"Apaan sih lo. pagi2 udah kek tarzan teriak ga jelas," omel gue padanya, pagi ini wajahnya sangat ceria berbeda 360 drajat dari wajahnya yg kemarin.

"Gue lagi senang yan," ucapnya sambil memeluk-meluk tubuh gue dari samping, itu kebiasaanya di saat senang dan itu sangat menyiksa karena gue harus mati-matian menunjukkan ekspresi biasa padahal hati gue berbunga dan jantung gue melompat-lompat tak karuan ingin rasanya gue ngebalas pelukannya tapi gue takut dia akan tau isi hati gue.

"Senang kenapa? perasaan baru kemarin lo nangis-nangis di pelukan gue"
"Hahaha itu sih kemarin, seperti kata lo nangisin cowok tuh cuma 1x ajah setelah itu lupakan" gue hanya tersenyum
"Trus kali ini apa yang buat lo senang? dapat cowok baru lo?" gue was-was dengan pertanyaan yang gue ajukan  sendiri.

"Nih" dia menyodorkan surat bersampul biru muda
"Apaan nih? pake surat-suratan segala? ngomong langsung ajah napa." 
"Eh...ini bukan buat lo, makanya baca dulu baru komentar" dia mencibir gue membalik amplop itu dan menemukan tulisan
To: shakyra Azka Putri"  membuka dan mulai membaca. 
  
Dalam diam aku menikmati keindahanmu
dalam diam aku mengagumi setiap lakumu
dalam diam aku memandang bening matamu
tak pernah inginku merusak keindahanmu, 
tak pernah ku ingin mengusik lakumu
tak pernah ku ingin melihat derai airmatamu

Aku hanya ingin menjadi pengagummupengagum yang selalu setia
seperti malam yang setia menunggu pagi meski mereka tak pernah ditakdirkan bertemu
  
Pengagummu
A.P"

Gue melipat kembali kertas ini dan menyerahkan pada kyra 
"Gimana? baguskan? ga nyangka ternyata gue punya pengagum rahasia"
"Norak, jaman sekarang masih ajah pake surat, jadul!" cibir gue  malas
"yey...norak apaan? ini tuh romantis tau," ucapnya sambil mendekap surat biru itu mungkin efek baru putus kali jadinya lebay gitu.

"Romantis? Rokok makan gratis?" tandas gue sambil membuang muka.
"Eh tpi A.P itu siapa yah?" tanyanya gue menolehkan wajah sedikit penasaran juga
"hmm.. apa mungkin mantan lo Andrian pratama kan A.P" balas gue mencoba mengingat-ingat siapa saja yang berinisial A.P

"Kayaknya ga mungkin dech dia itu udah punya Reni trus dia kan ga romantis"
"Yee...emang tau dari mana lo yang kirim neh surat orangnya romantis?"
"Kata-katanya kan manis gitu, dah gitu dia ngeletakin surat ini di depan pintu rumah gue lengkap dengan mawar dan coklat kurang romantis apa coba?"
"Ga sekalian dia letakin balon juga?"

"Emangnya gue anak kecil dikasih balon" dia memasang wajah cemberut dengan bibir di maju-majukan mendadak gue gemas melihat raut wajahnya segera gue memalingkan wajah dari wajahnya.
"Teettt...tetttt...tetttt" bel sekolah pertanda masuk berbunyi.
"Fiuhhhh" Gue menghembuskan nafas lega jadi Gue ga perlu berlama-lama berlomba dengan jantung gue.

***

Gue dan dia udah sama-sama kelas XII sibuk dengan banyak tugas dan juga bimbel, tapi dia masih saja sibuk dengan secret admirernya tapi baguslah setidaknya gue tak perlu melihatnya bermesraan atau bermanja-manja dengan pria lain yang pasti membuat mood gue hancur berantakan seperti yang sudah-sudah.

"Ryan" gue menoleh dan ada Reno disana gue hanya mengankat alis dengan tatapan bertanya
 "Tar sore maen yuk"
"Kemana?"
"Kemana ajah, mumet gue kali-kali ajah nemu cewek cakep."
 "Cewek mulu yang ada di otak lo"
"Emangnya gue itu lo udah dikasih muka cakep, pinter tapi dingin ma cewek kasian tuh cewek2 pada patah hati eh atau jangan-jangan"
"Jangan-jangan apa?" gue melototkan matak ke arah Reno berusa menakut-nakutinya
"Jangan-jangan lo gay yah?" Reno masih saja meledek tak terpengaruh dengan mata gue yang udah hampir keluar

"Eh kampret lu yah...gue normal sial" umpat gue sedikit geram, gimana ga geram dikatain gay padahal jelas-jelas gue normal.
"Hahaha santai dong bro, eh kalo lo gay jangan suka sama gue ya....gue ngeriiii"
"Yee kalo gue gay, gue juga milih-milih kali...siapa yang mau sama lo." dia hanya tertawa mendengar ucapan gue.

"Ryan" gue dan Reno menoleh ke sumber suara dan mendapati wajah manis kyra disana kami menghentikan langkah menunggunnya mendekat.
"Ada apa?" tanya gue saat dia sudah tepat dihadapan kami berdua
"Gue ikut kerumah lo yah" pintanya
"Cie..ciee..ciee" Gue dan kyra kompak memandang reno dengan tatapan aneh

"weesss...biasa ajah donk liatnya, gue duluan deh daripada gue ntar di makan," ujar Reno sambil tertawa sebelum Reno pergi dia masih sempat berbisik
"Buktikan bro kalo lo bukan homo" 
"Sialan lo..pergi sana!!" dia berlalu dan kini kyra yang memandang gue dengan tatapan aneh
"Reno bisikin apaan yan?" sepertinya dia curiga kalo dia yang jadi objek dalam bisik-bisik kami.
"Ah ga kok urusan cowok" balasku santai
"oohh"

"Eh lo ngapain mo mau ikut ke rumah gue?"
"Bosan dirumah, gue pengen cerita banyak ma lo! boleh yaaa" rengeknya sambil mengoyang-goyangkan lengan gue, kalo udah gini apa gue bisa bilang tidak?
"Ok...lo tunggu di gerbang ya gue ambil motor dulu" ujar gue diiringi anggukan darinya.
"Naik!" ajakan gue langsung disambut olehnya dia duduk di boncengan dengan gaya duduk anak perempuan dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang gue, hal ini sudah biasa dilakukannya tapi tetap saja selalu ngebuat gue tak berdaya.

"Udah?" tanya gue menyakinkan sebelum memacu motor sport biru kesayangan gue.
"Udah!" ujarnya mantap disusul dengan raungan motor yang gue pacu dengan kecepatan tinggi sekedar memacu adrenalin. semakin laju motorku kurasakan semakin erat pelukan di pinggang gue, gue hanya  tersenyum di balik helm SNI yang aku gunakan.

"Hufhh...selamat-selamat" kyra mengusap-usap dada saat kakinya menjejakkan tanah, gue hanya tersenyum memandangnya, pemandangan biasa karna dia selalu saja begitu tiap turun dari boncengan gue tapi dia tak protes mungkin udah bosan kali nasehati gue biar jangan ngebut.
"Ayo masuk" dia mengekori sampe ruang tamu
"Kok sepi yan?"
"Lagi pada mudik ke kampung, tante gue mau married, gue doank yang ga ikut kan bentar lagi mau ujian"

"Oh..." dia membulatkan bibirnya sambil meraih remote tv dan mulai memencet-mencet remote itu mencari siaran yang menurutnya asyik,
 "Gua ganti baju dulu, lo kalo haus ambil ajah di kulkas," dia hanya mengagguk-anggukkan kepalanya. 
guevmengganti baju sekolah dengan kaus oblong putih dan celana pendek selutut , lalu kembali keruang tamu dan duduk di sebelahnya sementara dia masih saja asyik mencet-mencet remote tanpa tujuan.

"Lo mau nonton apaan sih? kasian tuh remote di benyek-benyek sama lo" dia menoleh dan kemudian melanjutkan aksi pencet-pencet remotenya
"Ada apa?" tanya gue sedikit serius
"Gue penasaran yan!"
"Penasaran sama siapa? sama tuh remote yah?" ujar gue sambil melirik remote tv yang masih saja di pencet-pencet membuat chanel tv dihadapan kami berganti-ganti rupa tak karuan
"Bukan, tapi gue penasaran sama secret admirer gue yan!" ucapnya tanpa memperdulikan nasib remote tv yang masih saja di aniaya olehnya.

"Owhh" ucap  sambil menselonjorkan kaki dan menyederkan tubuh disofa dengan malas.
"Ini udah hampir 2 bulan loh yan dia tiap hari ngirimi gue coklat, bunga, puisi kadang-kadang juga ngasih gue boneka, kadang baju kemaren malah ngasih gue sepatu," ucapnya panjang lebar
"Terus??" tanya gue semakin malas

"Gue penasaran yan, gue harus tau siapa dia! lu bantuin gue cari tau yah" matanya berbinar saat memohon membuat gue enggan menolak tapi gue tak bisa membantunya kali ini.
"Gue ga bisa!"
 "Kok lo gitu sich yan?" ada raut sedih di wajahnya dan gue memilih membuang muka dari pada gue luluh.

"Bukan apa-apa Ra, tapi kan lo tau kita ini udah mau ujian akhir, kok lo sempat-sempatnya mikir hal ga penting gitu sich? sekarang itu waktunya belajar bukannya mikirin pengemar yang entah siapa, wujudnya ajah ga jelas," tandas gue kesal dengan sedikit menasehatinya.
"Ga penting gimana sih yan? ini tuh penting buat gua! lo tega kalo besok gue mati trus gue jadi hantu penasaran?"

"Kyra!!..lo ngomong apa sich?" bentak Gue dengan keras dia sedikit kaget dengan nada suara yang sebelumnya tak pernah di dengarnya, 
"Lo tau kan kalo ucapan lo itu merupakan doa buat lo jadi jangan sembarangan bicara!" dia hanya diam sepertinya dia takut mendengar suara gue wajahnya memerah entah menahan amarah atau menahan air mata.

"Maaf yan, gua cuma bercanda ngomongnya, lo jangan marah gitu yah gue takut," ucapnya sambil menunduk gue meraih pundaknya dan memeluknya sambil mengusap rambutnya dan mencium puncak kepalanya sambil berkata
"Gua ga bisa bayangin kalo sahabat baik gua mati besok, maaf yah gue udah bentak lo" dia menganggukkan kepalanya dipelukan gue
"Tapi lo mau bantu gua kan?" 
"Iah tapi ga sekarang tunggu kita selesai ujian" jawab gue tulus.

"Ok deh, nunggu 1 setengah bulan lagi ga papalah syukur-syukur dia ngajak ketemuan duluan," balasnya kali ini suaranya sudah terdengar ceria lagi.
"Lapar neh...makan yuk cacing gue udah berontak dari tadi" ajak gue sambil berdiri dari tempat duduk gue.
"Kan nyokap lo gada dirumah emang lo bisa masak?"
"Yey...emang siapa yang ngajak lo makan di rumah kita makan diluar lah"
"Ohh...kirain"
"Udah yuk...lapar gua"

"Ayuk" dia mengandeng tangan gue layaknya pasangan kekasih saja. gue sedikit aneh dengannya 
kenapa waktu gue ngebentak, dia ga ikut balas bentak yah? biasanya kan dia itu ga bisa di marah-marahin pasti ikut marah paling tidak pasti nangis lah tapi kok dia malah yang minta maaf duluan....aneh.

Gue dan dia masuk ke kafe Mutiara kemudian memesan dua porsi ayam bakar dan dua jus jeruk.kami duduk di daerah paling sudut.
"Selamat menikmati hidangan kami!" ucap pelayan pria itu sambil meletakkan pesanan pesanan kami dengan posisi sedikit membungkuk, gue melirik name badge nya kyra juga melirik ke tempat yang sama disitu tertera namanya "Aris Purnomo" wajahnya lumayan lah tapi tetap gantengan gua #hahaha....muji diri sendiri lagi

"Aris Purnomo...jangan-jangan di A.P Yan," ucap Krya sambil menyantap ayam panggangnya..
"Uhuk-uhuk" gue keselek mendegar pernyataannya barusan.
"Ini minun...hati-hati donk makanya gimana sih" dia bangkit dari duduknya menyodorkan segelas air putih yang ada di setiap meja di kafe ini sambil menepuk-nepuk punggung gue berlahan dan mengusap-usap lengan gue, kali ini jantung gue  tak terkendali lagi, berdetak secepat dia mau, gue hanya menarik napas panjang berusaha menenangkan hati.

"Lo ga apa-apa kan?" tanyanya dengan ekspresi yang tak pernah gue lihat sebelumnya.
"Jangan-jangan tukang sapu jalan yang inisial namanya A.P juga bakal lo kira pengagum lo lagi," cibir gue tak menghiraukan pertanyaannya.dia kembali duduk sambil berkata
"Yah...ga gitu juga sich tapi kan bisa ajah"
"Udah lah berhenti mikirin secret admirer lo sampe kita selesai ujian," tandas gue yang diikuti anggukan darinya dan dia kembali menyuapkan makananya.
"Drrrttt...drrtttt...drrrtt" ada yang bergetar di kantong celana gue dan gue segera meraihnya ternyata ada sms

From Reno.
Bro jadi ga keluar sore ini? 

To Reno:
Sorry bro gue ga bisa gua lagi ma kyra neh

From Reno:
ohh..ok! sukses ya buktikan kalo lo normal hahahaha 

To Reno:
Kampreet lo!!!


Gueb sedikit tersenyum memandang hp dan memasukkannya kembali kekantong celana , gue  mengangkat wajah dan seketika menemukan raut cemberut tepat dihadapan gue.
"Sms dari siapa sich? girang amat sampe lupa gua masih di sini" ucapnya dengan ekspresi bete yang sebete-betenya.

"Dari reno." jawabku singkat
"Ngomongin apa sampe girang gitu? ngomongin cewek iah?"
"Urusan cowok," balas gue cuek sambil kembali makan berusaha mengabaikan ekspresi bete yang terpampang dihadapan gue.

"Nonton yuk"
 "Pulang yuk" gue dan dia kompak menyuarakan keinginan kami bersama-sama gue ingin nonton dan dia ingin pulang.
"Ok kita pulang"
"Ok...kita nonton" nah lagi-lagi kami begitu kompak menyuarakan pendapat kali ini dia setuju nonton dan aku setuju pulang.

"Trus?" dia memandang gue meminta jawaban
"Ya udah pulang ajah nontonnya lain kali!"
 "Ya udah, pulang sekarang yuk" ajaknya gue segera membayar pesanan kami,  kyra melirik ke arah pelayan yang tadi, gue segera menarik tangannya sebelum dia berpikir aneh-aneh dan segera mengantarnya pulang.

****

Tak terasa hari ini terakhir kami ujian akhir dan selama ini kyra makin manja dan perhatian ke gue tapi gue ga mau kepedaan diakan lagi nungguin secret admirer nya yang tetap setia memberi puisi, bunga, coklat dan hadiah-hadiah lainnya. Gue keluar kelas dan merentangkan tangan serta berteriak
"Akhirrrnya!!!"
"Lulus aja belum ketauan udah kegirangan duluan," gue menoleh dan melihat kyra disana
"Yee gue mah bisa dipastikan lulus dengan predikat terbaik," ucap gue sedikit menyombongkan diri
"Huuuu....Pede," cibirnya

"Oia? gimana jadi kita nyelidiki secret admirer lo?" tanya gue mengingatkan janji yang dulu
"Ga." 
"Loh..kenapa?? bukannya lo penasaran siapa dia?"
"Nih" dia meyodorkan amplop biru sama persis seperti amplop dulu, gue membuka dan membaca isinya

Dear kyra;

kalo kamu ingin tahu siapa aku temui aku sore ini jam 5 di taman kota di tempat bunga bersemi dengan indah aku akan berdiri di sana dengan seikat mawar ditanganku

Pengagummu
A.P

 aku manggut-manggut memahami isi surat itu, 
"Berarti rasa penasaran lo bakal terbayar lunas donk"
"Iya donk....yan lo temani gua ya."
"Sorry ra gua ga bisa sore ini ada urusan keluarga yang sangat penting"
"Ishh masak sendiri sich Yan, kalo dia orang jahat gimana?"
"Diakan pengagum lo ga mungkin dia orang jahat..percaya ajah dia ga mungkin nyakiti lo"
"Kok lo kedengarannya yakin bangat Yan, apa jangan-jangan lo tau orangnya ya?" selidik kyra sambil melihat gue was-was

"Kalo gua tau, udah gua kasih tau sejak dulu kali"
"Ihh sewot"
"Lagian lo aneh sich kan ga mungkin seorang yang mendam rasa sampe jadi pengagum rahasia lo nyakiti lo, iya kan?" gue berusaha meyakinkannya tapi sepertinya dia belum sepenuhnya yakin
"Tapi gimana kalo dia ternyata seorang pysco, lo tega kalo gua sampe diapa-apain sama dia?"
"Tenang aja lagian dia kan ngajak ketemuan di tempat rame di taman ga mungkin dia berani macem-macem kalo dia berani lo tinggal teriak ajah" kali ini dia terlihat yakin

"Tapi kok lo kayaknya kurang bersemangat gitu si Ra? perasaan kemaren-kemarin lo penasaran banget ma secret admirer lo?" Tanyta gue sedikit melelehkan rasa penasaran dengan sikapnya akhir-akhir ini
"Ntahlah yan...gue takut, takut kalo dia ga sesuai dengan imajinasi gua"
hening
"Apalagi akhir-akhir ini gua bingung ma hati gua, tiap gua terima puisi, bunga atau apalah dari secret admirer gua hati gua ga kyak dulu lagi" gue hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya 

"Mungkin lo bosen dengan segala pemeberian dia? ujar gue
"Mungkin, atau mungkin karena hati gua terbagi dua"
 Deg....jantung gue berdetak tak karuan dia suka cowok lain tapi siapa mendadak pikiran gue kalut rasa sakit yang beberapa bulan tak gue rasakan kini mulai kembali
"Lo suka cowok lain lagi? siapa?" tanya gue berusaha memunculkan nada suara biasa
."Rahasia...ntar juga lo tau sendiri" ujarnya berteka-teki

"Udah ahh gua pulang dulu, mau siap-siap buat ketemuan ma secret admirer gua" kali ini suaranya sudah terdengar ceria, aku hanya membalas dengan anggukan entah kenapa kali ini gue yang tak bersemangat untuk menjalankan misi gue.

***

Keadaan taman kota sore ini seperti biasa rame oleh para penggunjungnya ada yang duduk-duduk dibangku taman, ada yang bermain ayunan dan ada juga yang duduk selonjoran di rumput taman ini. gue memilih berdiri di antara bunga krisan yang sedang bermekaran indah dengan seikat mawar merah yang masih segar ditangan kanan gue, gue berdiri dengan pikiran yang berkecamuk tak menentu entahlah gue bingung apakah berdiri disini merupakan tindakan benar atau malah akan menambah daftar sakit hati gue.

Gue menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan hati, gue udah berdiri disini apapun konsikwesinya gue akan terima.
"A.P!"
suara gadis itu cukup ngejutin, jantung gue seakan berlomba gur ingin berbalik tapi tubuh ini terasa kaku
"Kamu benar A.P kan pengangum rahasiaku?" suara itu kembali bertanya berusaha meyakinkan dan gue hanya menjawab dengan anggukan mungkin dia lelah menunggu gue berbalik sehingga dia memutuskan mendekati dan berdiri tepat di hadapan gue.

"Ryanda?" ujarnya dengan mimik terkejut gue hanya mengangguk pasrah gue memang sudah pasrah sejak dia mengatakan dia menyukai pria lain selain secret admirernya gue udah tak menaruh harapan lagi. selamanya cinta ini  mungkin takan terbalas.
"Iya gua...gua lah pengagum rahasia lo..."ujar gue  dengan ekspresi biasa
"Ryanda Arkan Permana jadi A.P itu Arkan Permana yah?" ujarnya masih tak percaya dan gue hanya membalas dengan anggukan.

"Sejak kapan lo suka gua?"
"Sejak awal kita masuk sekolah gua udah suka ma lo"
"Kok lo ga bilang sich yan?" tanyanya lagi, gue memandangi wajah cantik di depanku dengan dress biru mudanya yang membuatnya terlihat anggun sore ini
"Lo kan udah punya cowok, gimana gua mau bilang?" ujar gue dengan pandangan yang tak pernah lepas dari sosoknya

"Pantesan ajah kamu kayak gunung es ma cewek2 ternyata mendam rasa yah ma aku?" ujarnya dengan nada mengoda, gue hanya tersenyum terlebih mendengar sapaannya yang berubah dari lo jadi kamu dan dari gua jadi aku.tiba-tiba gue mengulurkan buket mawar yang berada digenggamanku dari tadi tanpa mengucapkan apa-apa, dia menggeleng dan duduk di rerumputan sambil berkata
"Gamau ah terima mawarnya kalo cara ngasihnya gitu, kayak tukang jual  bunga ngasih sama pembelinya" gue menujukkan expresi kecewa dan ikut duduk disebelahnya

"Trus maunya gimana?"
"Masak gitu ajah pake nanya sich?sia-sia aku muji-muji kamu romantis" ujarnya sedikit sewot gue meletakkan buket bunga di atas rerumputan begitu saja, gue perhatikan lagi wajah gadis yang duduk di sebelahku dengan tatapan kagum

"Kok kamu cantik banget sih?" tanya gue dengan nada serius refleks dia menoleh ke arahku dan seketika itu juga mata kami beradu, semburat merah menghiasi wajahnya, dia menundukkan wajahnya grogi sama sepertiku.
"Tapi sayang lo udah suka ma cowok laen selain secret admirer lo ini, mau gua tembak berapa kali juga tetap aja ga ngefek" ujar gue  mengutarakan kekecewaan yang gue pendam sejak tadi.

"kamu kok gitu sich? belom nyoba juga udah nyerah" ujarnya gue hanya diam memandangi bunga-bunga ditaman ini.
"Jadi bener neh lo ga mau nembak gua?" ucapnya sambil berdiri gue sedikit kaget memandangnya terlebih ketika dia kembali ber lo-gua, gue ikut berdiri dan tiba-tiba dia meraih kedua tangan gue  sambil berucap

"Kalo lo ga mau nembak gua biar gua ajah yang nembal lo" Gue terkesiap mendengar penuturannya
"What!! masak gua ditembak cewek," teriak gue dalam hati dia masih menggengam erat tangan gue sambil berkata
"Ryanda Arkan Permana, kamu itu seperti pohon buatku saat aku letih dengan semua masalahku kau selalu ada menopangku saat aku butuh tempat berlindung kau selalu setia melindungiku dan saat aku senang kau selalu ikut tertawa besamaku, kau tempatku membagi segala rasa yang aku rasakan. kau kokoh dan aku selalu aman ada disamping mu jadi aku mohon ijinkan aku selalu ada disisimu."

Gue gugup tak tau harus berkata apa baru kali ini gue ditembak cewek tiba-tiba gue teringat satu hal bukankah dia menyukai cowok lain selain secret admirenya.
"Bukannya lo menyukai cowok lain yang buat lo ga bersemangat lagi sama secret admirer lo ini"
tanyaku dengan nada sinis dia hanya tersenyum menatapku

"Jadi ini yang buat kamu enggan nyatain perasaan mu sama aku? asal kamu tau yah cowok yang aku suka itu yah kamu mana aku tau kalo secret admirer ku itu juga kamu" ucapnya dengan tenang gue tersenyum lega
"Jadi?" ujarnya sambil mengoyang-goyangkan tangan gue
"Jadi apa?"
"jadi kamu terima aku kan?" dia bertanya dengan malu-malu dan aku menggeleng dengan pasti

"Gua ga terima lo, lo di tolak!" ucap gue dengan tegas
"kok aku di tolak?" ada kesedihan terpancar disana ketika dia mengutarakan pertanyaannya, berlahan dia melepaskan genggaman tangannya gue segera meraih tangannya sebelum benar-benar terlepas dan dia memandangku segera
"Aku nolak kamu karena aku yang akan memintamu untuk terus berada disisiku, kamu seperti pelangi buatku selalu memberikan keindahan di hidupku, apa aku boleh terus menikmati pelangi ini sepanjang hidupku?" tanyaku penuh harap dan dia mengangguk pasti.

Gue segera meraihnya dalam pelukanku, 
"Makasih yah" bisikku ditelinganya dia hanya mengangguk
"eh ini apa?" gue memandang kebawah karena gue merasa menginjak sesuatu
"yahh...bunganya hancur padahal belum sempat dikasih ke kamu" ujar gue kecewa sambil meraih buket bunga yang kelopaknya sudah hancur akibat terinjak.

"Salah sendiri siapa suruh di injak, kan kasihan bunganya" balasnya menatap iba pada mawar ditanganku.
Gue hanya tersenyum menatap expresi cemberutnya 
"Maaf ntar aku beliin deh mawar yang lebih banyak lagi buat pacar tersayangku" goda gue sambil memandang wajahnya dan dia segera menunduk malu...aku kembali meraihnya dalam pelukanku dan berbisik
"I will give you all my heart until the end of time"


***THE END***


Curhatan pertama gue

Hari ini cukup menyebalalkan mana air mati lagi dari pagi ga bisa ngapa-ngapain huufhhh