Gue berjalan
di koridor sekolah, sedikit bingung harus bagaimana, hatik gue berbunga seperti taman yang di tumbuhi bunga-bunga kala gue melihatnya
namun akan terasa sakit seolah-olah duri-duri menusuk saat gue melihat nya bersama yang lain.
Hampir 3 tahun gue memendam rasa
padanya sejak awal kami masuk sekolah ini, kini sudah hampir lulus SMA
dan gue masih saja memendam rasa padanya padahal banyak gadis-gadis
cantik disini tapi entah kenapa gue tak tertarik.
Wajah gue juga lumayan
kok yah bisa di bilang ganteng lah(hahaha muji diri sendiri) gue juga
berprestasi baik akademik maupun olahraga banyak yang memujaku dari
kelas X sampai kelas XII, tapi entah kenapa gue tetap saja mematung di
satu hati.
Dia Shakyra azka putri, gadis yang gue kagumi, sukai bahkan
cintai. dia manis berkulit putih rambutnya hampir mencapai pinggang agag
bergelombang, dia pintar tapi rangkingnya tidak bisa melaluiku, guejuara 1 dan dia juara 2 dikelas. Gue suka rambutnya disaat orang
beramai-ramai meluruskan rambut dengan rebonding yang gue pikir
menghabiskan uang saja, dia tetap mempertahankan kealamian rambutnya
sama seperti dia yang mempertahankan sikap dan prinsip hidupnya, gue suka semua yang ada di dirinya tak terkecuali.
Gue bersahabat dengannya
sangat dekat malah tiap dia ada masalah dia selalu mengadu padaku,
tiap dia merasa jatuh cinta pada seorang pria dia selalu cerita padaku,
tiap dia sakit karena pria dia menangis di bahuku, tanpa dia sadari gue sakit, gue menahan segalanya, saat dia tersandung masalah gue selalu
berusaha mati-matian mencari jalan keluar agar dia bisa tertawa lagi,
saat dia jatuh cinta pada pria lain aku berusaha mati-matian menahan
perasaanku agar gue tetap bisa memberikan saran padanya, saran kado apa
yang cocok untuk kekasihnya, baju apa yang cocok untuk dia pakai saat
kencan, bagaimana cara memahami kekasihnya yang suka curigaan. aku
mati-matian menahan semua gejolak sampai dia benar-benar tak bisa
mengetahui isi hatiku sedikitpun. aku begitu hebat dalam hal ini meski
hatiku berdarah-darah karena cinta tapi diluar gue begitu kokoh sehingga
tak seorangpun tau kesakitanku.
"Braakk" gue meletakan tas bangku di depan belum terisi mungkin si
penghuni bangku lagi serapan di kantin dengan kekasihnya, aku
menelungkupkan kepalaku diatas meja, sedikit ngantuk karena
tadi malam habis begadang nonton bola.
"brakk"
gue mendengar suara tas dihempaskan di atas meja, paling juga Reno
teman sebangku, gue enggan mengangkat kepala sampai ada tangan lembut
yang mengoyang-goyangkan tubuhku
"Yann....bangun donk tidur mulu," suara lembut itu mengelitik telingaku memaksa mata gue untuk melihat wajah indahnya. gue mengangkat kepala dan berguman malas
"Apaan ra? gue ngantuk ahh!" kini dia hanya diam memandangi ujung sepatunya
"Lo
liat apaan di bawah? cari recehan iah?" gue berusaha mengodanya tapi
dia justru menangis, gue segera menarik tangannya dan membawanya ke
taman belakang sekolah. Gue dan dia duduk di rerumputan sementara
tangisnya belum juga reda gue merangkul bahunya dan meletakan kepalanya
dibahuku sambil mengusap airmatanyayang tak kunjung berhenti mengalir.
"Kenapa?" hanya itu yang gue tanya dan dia masih saja terisak kali ini makin keras gue hanya bisa diam menunggu jawaban darinya
"Dia jahat," ucapnya tiba-tiba gue hanya diam menunggu penjelasan selanjutnya
"Dia mutusin gue." aku masih diam dengan sabar mengusap-usap rambutnya.
"Dia udah permalukan gue di kantin" dia terus terisak dan gue tetap diam sibuk menenangkan gejolak hati gue sendiri.
"Gue
salah apa sih sama dia yan? gue selalu ngertiin dia, gue selalu nurut
apa kata dia? gue juga ga pernah nuntut macem-macem dari dia?" gue tetap diam sibuk membelai-belai rambutnya merusaha menenangkan.
"Dia
mutusin gue gitu ajah dan ngenalin pacar barunya di depan teman-teman,
gue sakit hati yan....sakit" tangisannya semakin kencang sehinga
tubuhnya terguncang-guncang di pelukanku
"Nangis ajah
yang kencang kalo itu bisa buat lo puas tapi cuma 1x ini ajah lo boleh
nangisin dia besok lo harus buang dia dari hidup lo" dia diam lalu
menganguk.
"Udah bel, masuk yuk" ajakku sambil berdiri
"Gak
mau, gue masih mau disini temani yah" dia merengek dan gue tak bisa
berbuat apa-apa kecuali menemaninya dan dia masih saja meletakkan kepalanya
di bahu gue dan gue tetap merangkul pundaknya jauh dilubuk hati guevsenang dia putus hari ini. mungkin ada celah dan gue bisa memasuki
hatinya
***
"Ryanda Arkan
Permana" teriakan itu ngagetin gue siapa lagi yang iseng meneriakkan
nama lengkap gue selain shakyra azka putri gadis yang selalu gue kagumi.
"Apaan
sih lo. pagi2 udah kek tarzan teriak ga jelas," omel gue padanya, pagi
ini wajahnya sangat ceria berbeda 360 drajat dari wajahnya yg kemarin.
"Gue
lagi senang yan," ucapnya sambil memeluk-meluk tubuh gue dari samping,
itu kebiasaanya di saat senang dan itu sangat menyiksa karena gue harus mati-matian menunjukkan ekspresi biasa padahal hati gue berbunga dan
jantung gue melompat-lompat tak karuan ingin rasanya gue ngebalas pelukannya tapi gue takut dia akan tau isi hati gue.
"Senang kenapa? perasaan baru kemarin lo nangis-nangis di pelukan gue"
"Hahaha itu sih kemarin, seperti kata lo nangisin cowok tuh cuma 1x ajah setelah itu lupakan" gue hanya tersenyum
"Trus kali ini apa yang buat lo senang? dapat cowok baru lo?" gue was-was dengan pertanyaan yang gue ajukan sendiri.
"Nih" dia menyodorkan surat bersampul biru muda
"Apaan nih? pake surat-suratan segala? ngomong langsung ajah napa."
"Eh...ini bukan buat lo, makanya baca dulu baru komentar" dia mencibir gue membalik amplop itu dan menemukan tulisan
To: shakyra Azka Putri" membuka dan mulai membaca.
Dalam diam aku menikmati keindahanmu
dalam diam aku mengagumi setiap lakumu
dalam diam aku memandang bening matamu
tak pernah inginku merusak keindahanmu,
tak pernah ku ingin mengusik lakumu
tak pernah ku ingin melihat derai airmatamu
Aku hanya ingin menjadi pengagummupengagum yang selalu setia
seperti malam yang setia menunggu pagi meski mereka tak pernah ditakdirkan bertemu
Pengagummu
A.P"
Gue melipat kembali kertas ini dan menyerahkan pada kyra
"Gimana? baguskan? ga nyangka ternyata gue punya pengagum rahasia"
"Norak, jaman sekarang masih ajah pake surat, jadul!" cibir gue malas
"yey...norak apaan? ini tuh romantis tau," ucapnya sambil mendekap surat biru itu mungkin efek baru putus kali jadinya lebay gitu.
"Romantis? Rokok makan gratis?" tandas gue sambil membuang muka.
"Eh tpi A.P itu siapa yah?" tanyanya gue menolehkan wajah sedikit penasaran juga
"hmm.. apa mungkin mantan lo Andrian pratama kan A.P" balas gue mencoba mengingat-ingat siapa saja yang berinisial A.P
"Kayaknya ga mungkin dech dia itu udah punya Reni trus dia kan ga romantis"
"Yee...emang tau dari mana lo yang kirim neh surat orangnya romantis?"
"Kata-katanya
kan manis gitu, dah gitu dia ngeletakin surat ini di depan pintu rumah
gue lengkap dengan mawar dan coklat kurang romantis apa coba?"
"Ga
sekalian dia letakin balon juga?"
"Emangnya gue anak kecil
dikasih balon" dia memasang wajah cemberut dengan bibir di maju-majukan
mendadak gue gemas melihat raut wajahnya segera gue memalingkan
wajah dari wajahnya.
"Teettt...tetttt...tetttt" bel
sekolah pertanda masuk berbunyi.
"Fiuhhhh" Gue menghembuskan nafas
lega jadi Gue ga perlu berlama-lama berlomba dengan jantung gue.
***
Gue dan dia udah sama-sama kelas XII sibuk dengan banyak tugas dan juga
bimbel, tapi dia masih saja sibuk dengan secret admirernya tapi
baguslah setidaknya gue tak perlu melihatnya bermesraan atau
bermanja-manja dengan pria lain yang pasti membuat mood gue hancur
berantakan seperti yang sudah-sudah.
"Ryan" gue menoleh dan ada Reno disana gue hanya mengankat alis dengan tatapan bertanya
"Tar sore maen yuk"
"Kemana?"
"Kemana ajah, mumet gue kali-kali ajah nemu cewek cakep."
"Cewek mulu yang ada di otak lo"
"Emangnya
gue itu lo udah dikasih muka cakep, pinter tapi dingin ma cewek kasian
tuh cewek2 pada patah hati eh atau jangan-jangan"
"Jangan-jangan apa?" gue melototkan matak ke arah Reno berusa menakut-nakutinya
"Jangan-jangan lo gay yah?" Reno masih saja meledek tak terpengaruh dengan mata gue yang udah hampir keluar
"Eh kampret lu yah...gue normal sial" umpat gue sedikit geram, gimana ga geram dikatain gay padahal jelas-jelas gue normal.
"Hahaha santai dong bro, eh kalo lo gay jangan suka sama gue ya....gue ngeriiii"
"Yee kalo gue gay, gue juga milih-milih kali...siapa yang mau sama lo." dia hanya tertawa mendengar ucapan gue.
"Ryan"
gue dan Reno menoleh ke sumber suara dan mendapati wajah manis kyra
disana kami menghentikan langkah menunggunnya mendekat.
"Ada apa?" tanya gue saat dia sudah tepat dihadapan kami berdua
"Gue ikut kerumah lo yah" pintanya
"Cie..ciee..ciee" Gue dan kyra kompak memandang reno dengan tatapan aneh
"weesss...biasa
ajah donk liatnya, gue duluan deh daripada gue ntar di makan," ujar Reno sambil tertawa sebelum Reno pergi dia masih sempat berbisik
"Buktikan bro kalo lo bukan homo"
"Sialan lo..pergi sana!!" dia berlalu dan kini kyra yang memandang gue dengan tatapan aneh
"Reno bisikin apaan yan?" sepertinya dia curiga kalo dia yang jadi objek dalam bisik-bisik kami.
"Ah ga kok urusan cowok" balasku santai
"oohh"
"Eh lo ngapain mo mau ikut ke rumah gue?"
"Bosan
dirumah, gue pengen cerita banyak ma lo! boleh yaaa" rengeknya sambil
mengoyang-goyangkan lengan gue, kalo udah gini apa gue bisa bilang tidak?
"Ok...lo tunggu di gerbang ya gue ambil motor dulu" ujar gue diiringi anggukan darinya.
"Naik!"
ajakan gue langsung disambut olehnya dia duduk di boncengan dengan gaya
duduk anak perempuan dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang gue,
hal ini sudah biasa dilakukannya tapi tetap saja selalu ngebuat gue tak
berdaya.
"Udah?" tanya gue menyakinkan sebelum memacu motor sport biru kesayangan gue.
"Udah!"
ujarnya mantap disusul dengan raungan motor yang gue pacu dengan kecepatan tinggi sekedar memacu adrenalin. semakin laju motorku
kurasakan semakin erat pelukan di pinggang gue, gue hanya tersenyum di balik
helm SNI yang aku gunakan.
"Hufhh...selamat-selamat"
kyra mengusap-usap dada saat kakinya menjejakkan tanah, gue hanya
tersenyum memandangnya, pemandangan biasa karna dia selalu saja begitu
tiap turun dari boncengan gue tapi dia tak protes mungkin udah bosan kali
nasehati gue biar jangan ngebut.
"Ayo masuk" dia mengekori sampe ruang tamu
"Kok sepi yan?"
"Lagi pada mudik ke kampung, tante gue mau married, gue doank yang ga ikut kan bentar lagi mau ujian"
"Oh..."
dia membulatkan bibirnya sambil meraih remote tv dan mulai
memencet-mencet remote itu mencari siaran yang menurutnya asyik,
"Gua
ganti baju dulu, lo kalo haus ambil ajah di kulkas," dia hanya
mengagguk-anggukkan kepalanya.
guevmengganti baju sekolah dengan kaus
oblong putih dan celana pendek selutut , lalu kembali keruang tamu dan
duduk di sebelahnya sementara dia masih saja asyik mencet-mencet remote
tanpa tujuan.
"Lo mau nonton apaan sih? kasian tuh
remote di benyek-benyek sama lo" dia menoleh dan kemudian melanjutkan
aksi pencet-pencet remotenya
"Ada apa?" tanya gue sedikit serius
"Gue penasaran yan!"
"Penasaran
sama siapa? sama tuh remote yah?" ujar gue sambil melirik remote tv yang masih
saja di pencet-pencet membuat chanel tv dihadapan kami berganti-ganti
rupa tak karuan
"Bukan, tapi gue penasaran sama
secret admirer gue yan!" ucapnya tanpa memperdulikan nasib remote tv
yang masih saja di aniaya olehnya.
"Owhh" ucap sambil menselonjorkan kaki dan menyederkan tubuh disofa dengan malas.
"Ini
udah hampir 2 bulan loh yan dia tiap hari ngirimi gue coklat, bunga,
puisi kadang-kadang juga ngasih gue boneka, kadang baju kemaren malah
ngasih gue sepatu," ucapnya panjang lebar
"Terus??" tanya gue semakin malas
"Gue penasaran yan, gue harus tau siapa dia! lu bantuin gue cari tau yah" matanya berbinar saat memohon membuat gue enggan menolak tapi gue tak bisa membantunya kali ini.
"Gue ga bisa!"
"Kok lo gitu sich yan?" ada raut sedih di wajahnya dan gue memilih membuang muka dari pada gue luluh.
"Bukan
apa-apa Ra, tapi kan lo tau kita ini udah mau ujian akhir, kok lo
sempat-sempatnya mikir hal ga penting gitu sich? sekarang itu waktunya
belajar bukannya mikirin pengemar yang entah siapa, wujudnya ajah ga
jelas," tandas gue kesal dengan sedikit menasehatinya.
"Ga penting gimana sih yan? ini tuh penting buat gua! lo tega kalo besok gue mati trus gue jadi hantu penasaran?"
"Kyra!!..lo
ngomong apa sich?" bentak Gue dengan keras dia sedikit kaget dengan nada
suara yang sebelumnya tak pernah di dengarnya,
"Lo
tau kan kalo ucapan lo itu merupakan doa buat lo jadi jangan
sembarangan bicara!" dia hanya diam sepertinya dia takut mendengar
suara gue wajahnya memerah entah menahan amarah atau menahan air mata.
"Maaf
yan, gua cuma bercanda ngomongnya, lo jangan marah gitu yah gue takut,"
ucapnya sambil menunduk gue meraih pundaknya dan memeluknya sambil
mengusap rambutnya dan mencium puncak kepalanya sambil berkata
"Gua
ga bisa bayangin kalo sahabat baik gua mati besok, maaf yah gue udah
bentak lo" dia menganggukkan kepalanya dipelukan gue
"Tapi lo mau bantu
gua kan?"
"Iah tapi ga sekarang tunggu kita selesai ujian" jawab gue tulus.
"Ok deh, nunggu 1 setengah bulan lagi ga papalah syukur-syukur dia ngajak
ketemuan duluan," balasnya kali ini suaranya sudah terdengar ceria
lagi.
"Lapar neh...makan yuk cacing gue udah berontak dari tadi" ajak gue sambil berdiri dari tempat duduk gue.
"Kan nyokap lo gada dirumah emang lo bisa masak?"
"Yey...emang siapa yang ngajak lo makan di rumah kita makan diluar lah"
"Ohh...kirain"
"Udah yuk...lapar gua"
"Ayuk"
dia mengandeng tangan gue layaknya pasangan kekasih saja. gue sedikit
aneh dengannya
kenapa waktu gue ngebentak, dia ga ikut balas bentak
yah? biasanya kan dia itu ga bisa di marah-marahin pasti ikut marah
paling tidak pasti nangis lah tapi kok dia malah yang minta maaf
duluan....aneh.
Gue dan dia masuk ke kafe Mutiara kemudian memesan dua porsi ayam bakar dan dua jus jeruk.kami duduk di daerah paling sudut.
"Selamat
menikmati hidangan kami!" ucap pelayan pria itu sambil meletakkan
pesanan pesanan kami dengan posisi sedikit membungkuk, gue melirik name
badge nya kyra juga melirik ke tempat yang sama disitu tertera namanya
"Aris Purnomo" wajahnya lumayan lah tapi tetap gantengan gua
#hahaha....muji diri sendiri lagi
"Aris Purnomo...jangan-jangan di A.P Yan," ucap Krya sambil menyantap ayam panggangnya..
"Uhuk-uhuk" gue keselek mendegar pernyataannya barusan.
"Ini
minun...hati-hati donk makanya gimana sih" dia bangkit dari duduknya
menyodorkan segelas air putih yang ada di setiap meja di kafe ini
sambil menepuk-nepuk punggung gue berlahan dan mengusap-usap lengan gue,
kali ini jantung gue tak terkendali lagi, berdetak secepat dia mau, gue
hanya menarik napas panjang berusaha menenangkan hati.
"Lo ga apa-apa kan?" tanyanya dengan ekspresi yang tak pernah gue lihat sebelumnya.
"Jangan-jangan
tukang sapu jalan yang inisial namanya A.P juga bakal lo kira pengagum
lo lagi," cibir gue tak menghiraukan pertanyaannya.dia kembali duduk
sambil berkata
"Yah...ga gitu juga sich tapi kan bisa ajah"
"Udah
lah berhenti mikirin secret admirer lo sampe kita selesai ujian," tandas gue yang diikuti anggukan darinya dan dia kembali menyuapkan makananya.
"Drrrttt...drrtttt...drrrtt" ada yang bergetar di kantong celana gue dan gue segera meraihnya ternyata ada sms
From Reno.
Bro jadi ga keluar sore ini?
To Reno:
Sorry bro gue ga bisa gua lagi ma kyra neh
From Reno:
ohh..ok! sukses ya buktikan kalo lo normal hahahaha
To Reno:
Kampreet lo!!!
Gueb sedikit tersenyum memandang hp dan memasukkannya kembali kekantong celana , gue mengangkat wajah dan seketika menemukan raut cemberut
tepat dihadapan gue.
"Sms dari siapa sich? girang amat sampe lupa gua masih di sini" ucapnya dengan ekspresi bete yang sebete-betenya.
"Dari reno." jawabku singkat
"Ngomongin apa sampe girang gitu? ngomongin cewek iah?"
"Urusan cowok," balas gue cuek sambil kembali makan berusaha mengabaikan ekspresi bete yang terpampang dihadapan gue.
"Nonton yuk"
"Pulang yuk" gue dan dia kompak menyuarakan keinginan kami bersama-sama gue ingin nonton dan dia ingin pulang.
"Ok kita pulang"
"Ok...kita nonton" nah lagi-lagi kami begitu kompak menyuarakan pendapat kali ini dia setuju nonton dan aku setuju pulang.
"Trus?" dia memandang gue meminta jawaban
"Ya udah pulang ajah nontonnya lain kali!"
"Ya
udah, pulang sekarang yuk" ajaknya gue segera membayar pesanan kami, kyra melirik ke arah pelayan yang tadi, gue segera menarik
tangannya sebelum dia berpikir aneh-aneh dan segera mengantarnya pulang.
****
Tak
terasa hari ini terakhir kami ujian akhir dan selama ini kyra makin
manja dan perhatian ke gue tapi gue ga mau kepedaan diakan lagi
nungguin secret admirer nya yang tetap setia memberi puisi, bunga,
coklat dan hadiah-hadiah lainnya. Gue keluar kelas dan merentangkan
tangan serta berteriak
"Akhirrrnya!!!"
"Lulus aja belum ketauan udah kegirangan duluan," gue menoleh dan melihat kyra disana
"Yee gue mah bisa dipastikan lulus dengan predikat terbaik," ucap gue sedikit menyombongkan diri
"Huuuu....Pede," cibirnya
"Oia? gimana jadi kita nyelidiki secret admirer lo?" tanya gue mengingatkan janji yang dulu
"Ga."
"Loh..kenapa?? bukannya lo penasaran siapa dia?"
"Nih" dia meyodorkan amplop biru sama persis seperti amplop dulu, gue membuka dan membaca isinya
Dear kyra;
kalo
kamu ingin tahu siapa aku temui aku sore ini jam 5 di taman kota di
tempat bunga bersemi dengan indah aku akan berdiri di sana dengan
seikat mawar ditanganku
Pengagummu
A.P
aku manggut-manggut memahami isi surat itu,
"Berarti rasa penasaran lo bakal terbayar lunas donk"
"Iya donk....yan lo temani gua ya."
"Sorry ra gua ga bisa sore ini ada urusan keluarga yang sangat penting"
"Ishh masak sendiri sich Yan, kalo dia orang jahat gimana?"
"Diakan pengagum lo ga mungkin dia orang jahat..percaya ajah dia ga mungkin nyakiti lo"
"Kok lo kedengarannya yakin bangat Yan, apa jangan-jangan lo tau orangnya ya?" selidik kyra sambil melihat gue was-was
"Kalo gua tau, udah gua kasih tau sejak dulu kali"
"Ihh sewot"
"Lagian
lo aneh sich kan ga mungkin seorang yang mendam rasa sampe jadi
pengagum rahasia lo nyakiti lo, iya kan?" gue berusaha meyakinkannya tapi
sepertinya dia belum sepenuhnya yakin
"Tapi gimana kalo dia ternyata seorang pysco, lo tega kalo gua sampe diapa-apain sama dia?"
"Tenang
aja lagian dia kan ngajak ketemuan di tempat rame di taman ga mungkin
dia berani macem-macem kalo dia berani lo tinggal teriak ajah" kali
ini dia terlihat yakin
"Tapi kok lo kayaknya kurang
bersemangat gitu si Ra? perasaan kemaren-kemarin lo penasaran banget ma
secret admirer lo?" Tanyta gue sedikit melelehkan rasa penasaran dengan
sikapnya akhir-akhir ini
"Ntahlah yan...gue takut, takut kalo dia ga sesuai dengan imajinasi gua"
hening
"Apalagi
akhir-akhir ini gua bingung ma hati gua, tiap gua terima puisi, bunga
atau apalah dari secret admirer gua hati gua ga kyak dulu lagi" gue hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya
"Mungkin lo bosen dengan segala pemeberian dia? ujar gue
"Mungkin, atau mungkin karena hati gua terbagi dua"
Deg....jantung gue
berdetak tak karuan dia suka cowok lain tapi siapa mendadak pikiran gue
kalut rasa sakit yang beberapa bulan tak gue rasakan kini mulai kembali
"Lo suka cowok lain lagi? siapa?" tanya gue berusaha memunculkan nada suara biasa
."Rahasia...ntar juga lo tau sendiri" ujarnya berteka-teki
"Udah
ahh gua pulang dulu, mau siap-siap buat ketemuan ma secret admirer
gua" kali ini suaranya sudah terdengar ceria, aku hanya membalas dengan
anggukan entah kenapa kali ini gue yang tak bersemangat untuk
menjalankan misi gue.
***
Keadaan
taman kota sore ini seperti biasa rame oleh para penggunjungnya ada
yang duduk-duduk dibangku taman, ada yang bermain ayunan dan ada juga
yang duduk selonjoran di rumput taman ini. gue memilih berdiri di
antara bunga krisan yang sedang bermekaran indah dengan seikat mawar
merah yang masih segar ditangan kanan gue, gue berdiri dengan pikiran
yang berkecamuk tak menentu entahlah gue bingung apakah berdiri disini
merupakan tindakan benar atau malah akan menambah daftar sakit
hati gue.
Gue menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan hati, gue udah berdiri disini apapun konsikwesinya gue akan terima.
"A.P!"
suara gadis itu cukup ngejutin, jantung gue seakan berlomba gur ingin berbalik tapi tubuh ini terasa kaku
"Kamu
benar A.P kan pengangum rahasiaku?" suara itu kembali bertanya
berusaha meyakinkan dan gue hanya menjawab dengan anggukan mungkin dia
lelah menunggu gue berbalik sehingga dia memutuskan mendekati dan
berdiri tepat di hadapan gue.
"Ryanda?" ujarnya dengan
mimik terkejut gue hanya mengangguk pasrah gue memang sudah pasrah
sejak dia mengatakan dia menyukai pria lain selain secret admirernya gue udah tak menaruh harapan lagi. selamanya cinta ini mungkin takan
terbalas.
"Iya gua...gua lah pengagum rahasia lo..."ujar gue dengan ekspresi biasa
"Ryanda Arkan Permana jadi A.P itu Arkan Permana yah?" ujarnya masih tak percaya dan gue hanya membalas dengan anggukan.
"Sejak kapan lo suka gua?"
"Sejak awal kita masuk sekolah gua udah suka ma lo"
"Kok
lo ga bilang sich yan?" tanyanya lagi, gue memandangi wajah cantik di
depanku dengan dress biru mudanya yang membuatnya terlihat anggun sore
ini
"Lo kan udah punya cowok, gimana gua mau bilang?" ujar gue dengan pandangan yang tak pernah lepas dari sosoknya
"Pantesan
ajah kamu kayak gunung es ma cewek2 ternyata mendam rasa yah ma aku?"
ujarnya dengan nada mengoda, gue hanya tersenyum terlebih mendengar
sapaannya yang berubah dari lo jadi kamu dan dari gua jadi
aku.tiba-tiba gue mengulurkan buket mawar yang berada digenggamanku dari
tadi tanpa mengucapkan apa-apa, dia menggeleng dan duduk di rerumputan
sambil berkata
"Gamau ah terima mawarnya kalo cara
ngasihnya gitu, kayak tukang jual bunga ngasih sama pembelinya" gue
menujukkan expresi kecewa dan ikut duduk disebelahnya
"Trus maunya gimana?"
"Masak
gitu ajah pake nanya sich?sia-sia aku muji-muji kamu romantis" ujarnya
sedikit sewot gue meletakkan buket bunga di atas rerumputan begitu
saja, gue perhatikan lagi wajah gadis yang duduk di sebelahku dengan
tatapan kagum
"Kok kamu cantik banget sih?" tanya gue dengan nada serius refleks dia menoleh ke arahku dan seketika itu juga
mata kami beradu, semburat merah menghiasi wajahnya, dia menundukkan
wajahnya grogi sama sepertiku.
"Tapi
sayang lo udah suka ma cowok laen selain secret admirer lo ini, mau gua
tembak berapa kali juga tetap aja ga ngefek" ujar gue mengutarakan
kekecewaan yang gue pendam sejak tadi.
"kamu kok gitu sich? belom nyoba juga udah nyerah" ujarnya gue hanya diam memandangi bunga-bunga ditaman ini.
"Jadi
bener neh lo ga mau nembak gua?" ucapnya sambil berdiri gue sedikit
kaget memandangnya terlebih ketika dia kembali ber lo-gua, gue ikut
berdiri dan tiba-tiba dia meraih kedua tangan gue sambil berucap
"Kalo lo ga mau nembak gua biar gua ajah yang nembal lo" Gue terkesiap mendengar penuturannya
"What!! masak gua ditembak cewek," teriak gue dalam hati dia masih menggengam erat tangan gue sambil berkata
"Ryanda
Arkan Permana, kamu itu seperti pohon buatku saat aku letih dengan
semua masalahku kau selalu ada menopangku saat aku butuh tempat
berlindung kau selalu setia melindungiku dan saat aku senang kau selalu
ikut tertawa besamaku, kau tempatku membagi segala rasa yang aku
rasakan. kau kokoh dan aku selalu aman ada disamping mu jadi aku mohon
ijinkan aku selalu ada disisimu."
Gue gugup tak tau harus berkata apa
baru kali ini gue ditembak cewek tiba-tiba gue teringat satu hal
bukankah dia menyukai cowok lain selain secret admirenya.
"Bukannya lo menyukai cowok lain yang buat lo ga bersemangat lagi sama secret admirer lo ini"
tanyaku dengan nada sinis dia hanya tersenyum menatapku
"Jadi
ini yang buat kamu enggan nyatain perasaan mu sama aku? asal kamu tau
yah cowok yang aku suka itu yah kamu mana aku tau kalo secret admirer
ku itu juga kamu" ucapnya dengan tenang gue tersenyum lega
"Jadi?"
ujarnya sambil mengoyang-goyangkan tangan gue
"Jadi
apa?"
"jadi kamu terima aku kan?" dia bertanya dengan malu-malu dan aku
menggeleng dengan pasti
"Gua ga terima lo, lo di tolak!" ucap gue dengan
tegas
"kok aku di tolak?" ada kesedihan terpancar disana ketika dia
mengutarakan pertanyaannya, berlahan dia melepaskan genggaman
tangannya gue segera meraih tangannya sebelum benar-benar terlepas dan
dia memandangku segera
"Aku nolak kamu karena aku yang akan memintamu
untuk terus berada disisiku, kamu seperti pelangi buatku selalu
memberikan keindahan di hidupku, apa aku boleh terus menikmati pelangi
ini sepanjang hidupku?" tanyaku penuh harap dan dia mengangguk pasti.
Gue segera meraihnya dalam pelukanku,
"Makasih yah" bisikku
ditelinganya dia hanya mengangguk
"eh ini apa?" gue memandang kebawah
karena gue merasa menginjak sesuatu
"yahh...bunganya hancur padahal belum
sempat dikasih ke kamu" ujar gue kecewa sambil meraih buket bunga yang
kelopaknya sudah hancur akibat terinjak.
"Salah sendiri siapa suruh di
injak, kan kasihan bunganya" balasnya menatap iba pada mawar
ditanganku.
Gue hanya tersenyum menatap expresi cemberutnya
"Maaf
ntar aku beliin deh mawar yang lebih banyak lagi buat pacar
tersayangku" goda gue sambil memandang wajahnya dan dia segera menunduk
malu...aku kembali meraihnya dalam pelukanku dan berbisik
"I will give
you all my heart until the end of time"
***THE END***